Debat tentang apakah Asia harus lebih fokus pada pengembangan transportasi massal yang efisien daripada mendukung kepemilikan mobil pribadi semakin mendesak, terutama di tengah krisis kemacetan dan polusi perkotaan. Infrastruktur transportasi massal yang buruk di banyak kota besar Asia menjadi penyebab utama mengapa mobil pribadi masih menjadi pilihan utama.
Para kritikus berpendapat bahwa fokus pada kepemilikan mobil (termasuk EV) hanya akan menggantikan polusi udara dengan kemacetan yang lebih parah. Investasi besar harus dialokasikan untuk memperluas jaringan kereta api, MRT, dan bus yang andal, cepat, dan terintegrasi.
Di sisi lain, kepemilikan mobil pribadi seringkali merupakan simbol pencapaian status ekonomi di Asia, dan permintaan untuk mobil terus meningkat seiring dengan pertumbuhan kelas menengah. Pemerintah kesulitan membatasi aspirasi ini tanpa menyediakan alternatif transportasi massal yang benar-benar layak.
Solusi terbaik adalah pendekatan hibrida: membangun transportasi massal kelas dunia sebagai tulang punggung mobilitas, sambil menggunakan teknologi dan regulasi (seperti pajak kemacetan dan smart traffic management) untuk membatasi penggunaan mobil pribadi di pusat kota.
Asia harus menghadapi dilema antara fokus pada transportasi massal yang efisien dan permintaan kepemilikan mobil pribadi. Investasi transportasi massal didorong untuk mengatasi kemacetan dan polusi, tetapi kepemilikan mobil tetap menjadi simbol status ekonomi.

