Bisnis Cloud Kitchen dan Teknologi di Baliknya

Bisnis Cloud Kitchen dan Teknologi di Baliknya

Jika Anda memesan makanan via aplikasi akhir-akhir ini, ada kemungkinan makanan itu berasal dari dapur yang tidak pernah Anda lihat. Inilah fenomena cloud kitchen atau “restoran hantu”, model bisnis kuliner yang meledak pasca-pandemi, yang beroperasi murni untuk delivery.

Artikel ini akan mengintip cara kerja model bisnis yang ramping ini. Tanpa perlu biaya sewa mahal untuk area makan (dine-in), cloud kitchen dapat fokus 100% pada efisiensi produksi dan pengiriman.

Kita akan membongkar tumpukan teknologi (tech stack) di baliknya. Ini bukan sekadar dapur biasa. Mereka bergantung pada software manajemen pesanan terintegrasi yang menyatukan order dari berbagai aplikasi (Gofood, Grabfood, Shopeefood) ke dalam satu layar.

Selain itu, teknologi inti mereka adalah analisis data. Cloud kitchen menganalisis tren makanan real-time di area mereka untuk memutuskan menu apa yang harus dijual. Mereka bisa meluncurkan “merek” ayam geprek baru dalam hitungan hari jika data menunjukkan permintaan tinggi.

Artikel ini akan mengeksplorasi masa depan industri F&B. Apakah cloud kitchen akan membunuh restoran tradisional? Dan bagaimana model ini menciptakan persaingan baru yang hiper-kompetitif, di mana visibilitas di aplikasi lebih penting daripada lokasi fisik?